Kalau lihat Rumah Gadang, Rumoh Aceh, Rumah Bolon, sampai rumah tradisional Nusa Tenggara, ada satu hal yang bikin menarik: beberapa di antaranya berada di daerah yang sejak dulu akrab dengan gempa, tetapi desainnya justru punya kemampuan merespons guncangan dengan cukup baik. Bukan karena “anti gempa” secara ajaib, melainkan karena nenek moyang kita sudah punya cara sendiri membaca kondisi alam. Salah satu contohnya adalah Rumah Gadang di Sumatera Barat yang menggunakan kombinasi rangka kayu, pondasi umpak, dan sambungan yang memungkinkan struktur bergerak. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan sistem tersebut memang memiliki karakter yang mendukung ketahanan terhadap gempa.
Beberapa rahasia strukturnya ternyata cukup unik:
- Pondasi tidak dibuat terlalu “mengunci” bangunan. Rumah tradisional seperti Rumah Gadang dan Rumoh Aceh menggunakan konsep batu umpak, yaitu tiang kayu bertumpu pada batu, bukan dicor menyatu dengan tanah. Saat gempa mengguncang tanah, sistem ini dapat membantu mengurangi sebagian gaya lateral yang langsung diteruskan ke bangunan.
- Sambungan kayunya justru dibuat fleksibel. Berbeda dengan konstruksi modern yang banyak menggunakan sambungan kaku, beberapa rumah tradisional memakai pasak, pin, ikatan rotan atau tali ijuk. Sambungan seperti ini memungkinkan sedikit pergerakan ketika menerima getaran, sehingga energi gempa tidak semuanya dipaksa diterima oleh satu titik.
- Kayu menjadi “partner” yang lentur. Material kayu relatif ringan dan memiliki kemampuan mengalami deformasi sebelum mengalami kerusakan parah. Karena itu, rangka kayu pada rumah tradisional dapat mengikuti gerakan bangunan ketika diguncang, berbeda dengan struktur yang sangat kaku. Prinsip material ringan dan struktur fleksibel juga ditemukan pada beberapa rumah tradisional Nusa Tenggara Timur.
- Bentuk bangunan dibuat sederhana dan seimbang. Denah yang relatif sederhana dan simetris membantu distribusi gaya menjadi lebih teratur ketika gempa datang. Pada Rumah Kajang, misalnya, penelitian menemukan bentuk denah sederhana dan simetris serta penggunaan struktur kayu sebagai bagian dari karakter ketahanannya terhadap gempa.
- Setiap bagian bekerja sebagai satu tim. Pada Rumah Bolon Batak Toba, sistem sambungan berbasis interlocking membantu mendistribusikan gaya gempa ke berbagai bagian struktur. Jadi bukan cuma tiang yang “disuruh kuat”, tetapi seluruh rangka ikut bekerja.
Yang paling menarik, konsep “rumah yang boleh bergerak” ini sebenarnya cukup dekat dengan prinsip rekayasa gempa modern. Bangunan yang terlalu kaku tidak selalu menjadi pilihan terbaik karena gempa menghasilkan gerakan bolak-balik yang sangat besar. Pada beberapa arsitektur tradisional Indonesia, sambungan yang dapat sedikit bergeser atau berputar membuat struktur mampu menyerap dan menyebarkan energi getaran. Rumah tradisional Ammu Hawu di Nusa Tenggara Timur bahkan pernah dianalisis menggunakan simulasi riwayat gempa Flores; hasilnya menunjukkan struktur secara umum tidak mengalami keruntuhan, sementara pondasi umpak turut membantu mengurangi gaya lateral yang diterima bangunan. Namun, bukan berarti semua rumah adat otomatis aman dari gempa. Kondisi material, usia bangunan, kualitas sambungan, perubahan renovasi, serta jenis tanah tetap sangat menentukan. Bahkan penelitian terhadap Rumah Adat Bugis menunjukkan bahwa tidak semua elemen strukturnya otomatis memenuhi kriteria keamanan.
Jadi, rahasia rumah tradisional yang mampu bertahan di wilayah rawan gempa bukan sekadar soal bentuk yang unik. Kuncinya ada pada struktur yang ringan, fleksibel, saling mengunci, dan mampu bergerak mengikuti guncangan. Bisa dibilang, nenek moyang kita sudah memahami prinsip dasar “jangan melawan gempa dengan kekakuan, tapi hadapi dengan kelenturan” jauh sebelum istilah teknik sipil modern populer.